Senin, 15 Oktober 2012

Keroncong Tugu



1.      Latar Belakang / Sejarah Kampung Tugu
1.1.            Kampung Tugu
Menurut beberapa catatan sejarah, asal usul Kampung Tugu ada beberapa versi yang antara lain menyebutkan bahwa nama Tugu katanya sebagai tanda batas, tetapi ada juga yang berpendapat bahwa Tugu diambil dari kata Por Tugu Esa (Portugis). Adapun pendapat  yang lebih mendekati latar belakang sejarah bahwa, nama kampung Tugu ada kaitannya dengan ditemukannya sebuah prasasti batu berbentuk kerucut bundar dan bertuliskan huruf Pallawa dengan bahawa Sansekerta yang kira-kira berasal dari abad IV, V Masehi. Prasasti itu merupakan salah satu dari tujuh prasasti Raja Purnawarman di Jawa Barat yang merupakan sumber sejarah untuk daerah itu.
Lebih cenderung nama Tugu dari kesekian pendapat diatas, yang sangat mendekati boleh jadi nama asal usulnya dari prasasti. Dimana sekarang tempat ditemukannya Prasasti Tugu oleh penduduk setempat disebut Batu Tumbuh dan dianggap Batu Keramat, lama kelamaan lokasi itu yang sering didatangi untuk pemujaan oleh masyarakat disebut Kampung Batu Tumbuh. Walaupun batu prasasti sudah diangkat dan disimpan di Musium Nasional pada tahun 1911. Anggapan demikian masih terdengar bekas-bekasnya bagi penduduk Kampung Tugu yang sudah lanjut usia.
Sebagai monumen sejarah di Kampung Tugu selain tempat ditemukannya batu prasasti, hasil peninggalan kebudayaan Hindu sebagai babakan dari zaman Hindu, ada pula peninggalan dari zaman kolonial VOC YAITU SEBUAH BANGUNAN Gereja Portugis Yang hampir berumur lebih dari 2 ½ (dua setengah) abad.
Gereja Tugu 1747
Gereja tertua di Tanjung Priok, Pemberian dari Tuan tanah Cilincing Jus Timur – Vinck
untuk masyarakat Kristen di Tugu dan merupakan Gereja yang ketiga. Gereja Pertama
dan Kedua hancur / rusak karena terbuat dari papan dan bilik. Lokasi Gereja I dan II
sekarang jadi Gereja Katholik “Salib Suci”.

Riwayat Gereja ini, tahun 1978 di Tugu telah ada bangunan Gereja darurat kemudian pada tahun 1737 oleh Pendeta Dirk Jan Van Der Tydt didirikan Geraja yang kedua kalinya. Kemudian pada tahun 1740 sewaktu pemberontakan Cina di Batavia Gereja tersebut hancur di bakar habis.
Gereja yang ketiga dibandung pada tahun 1744 dan ditahbiskan pada tanggal 29 Juli 1747 oleh Pendeta Mohn, Gereja tersebut adalah pemberian dari seorang dermawan bernama Justinus van Der Vinck, yang pada waktu itu menjadi tuan tanah di Cilincing. Atas izin dari Gubernur Jendral Van Im Bof sebagai Gubernur di Batavia, maka berdirilah sebuah Gereja yang sampai sekarang ini dikenal dengan Gereja Tugu Portugis.

1.2.            Asal Usul Penduduk Tugu Keturunan Portugis.
Menurut latar belakang sejarah asal usul penduduk Tugu keturunan Portugism berasal dari tawanan – tawanan perang yang terdiri dari daerah yang diduduki Portugis pada zaman itu, seperti Goa, Malabar, Coromandel Bengal, Arakan, Malakka dsb.
Sebagian dari mereka ada juga yang menjadi awak kapal laut Portugis yang dijadikan budak, tentara, buruh kuli pelabuhan untuk mengabdi kepada Portugis. Setelah mengikuti rumah tangga orang Portugis, budak dibaptis menjadi Kristen dan kemudian sering dimerdekakan. Karenanya mereka disebut “Orang Mardika” (dari kata Sanskrit Mahardika, bebas : ejaan Portugis Merdaqus merdeka).
Golongan ini kemudian menetap dipelabuhan-pelabuhan yang disinggahi Portugis mendirikan kampung sendiri dengan kepala kampung sendiri dan hidup menurut kebiasaan yang dibawa dari tanah asalnya. Golongan Mardika ini sering disebut “Orang Portugis” oleh pihak pribumi, untuk menjelaskan perbedaan dengan mereka sendiri, juga karena “Orang Portugis” (walaupun lebih sering Portugis hitam) bernaung dibawah kewibawaan Portugis, sesuai dengan ketentuan kebijaksanaan Pemerintah Portugal, tang menganggap semua orang Kristen didaerahnya sebagai orang Portugis. Memang bagi Pemerintah Portugis didaerah “Seberang Laut” Kristerius warga negara adalah Agama, bukan warna kulit atau suku bangsa.
Penduduk Tugu keturunan Portugis boleh jadi berasal dari masyaralat yang sudah Mardika pada abad XVII di Batavia. Mungkin meraka pernah mengikuti kapal-kapal Portugis yang datang berdagang di Jayakarta (dahulu Sunda Kelapa) dan kemudian bermukim di sekitar benteng Jayakarta. Pada waktu Batavia jatuh ketangan VOC tahun 1619, orang Mahardika ini memihak padanya, dan dimasukkan dalam pasukan VOC. Kemudian sebagai pembalas jasa, kepada mereka dihadiahkan tanah, dan tanah Tugulah mereka menetap serta hidup dengan kebiasaan yang lahir dari campuran darah dan budaya. Walaupun demikian mereka menggangap diri tetap Portugis. Hal ini terwujud dalam berbagai segi kehidupan terutama dalam penggunaan nama keluarga, seperti Quiko, Da Costa, Mayo dst.
  Sebelum perang dunia ke II di Kampung Tugu terdapat 60 kepala keluarga sesudah perang selesai dan perang kemerdekaan Indonesia, maka orang-orang Tugu keturunan Portugis mulai bercerai berai. Mereka banyak yang pindah keluar Tugu, ada yang tetap di kota Jakarta, Jawa Barat, Irian Barat, Jawa Timur dan ke negeri Belanda.
Menurut catatan informasi, katanya sekarang di Kampung Tugu hanya terdapat kurang lebih 42 keluarga dan kebanyakan dari mereka terdiri dari orang-orang tua, sedang yang lain tinggal di Kota Jakarta. Meskipun sudah berjauhan Tugu tetap dikenang sebagai kampung halamanya, sehingga kadang-kadang mereka datang berkunjung ke Tugu.
Sekarang keluarga besar Tugu keturunan Portugis merupakan angkatan ke 8 (Delapan) yang masih ada, antara lain :
1.      Keluarga Abraham
2.      Keluarga Andreas
3.      Keluarga Cornelis
4.      Keluarga Michiels
5.      Keluarga Salomons
6.      Keluarga Saymons
7.      Keluarga Quiko (almarhum)
8.      Keluarga Browne

2.      Asal Usulnya
Selama hampir 3 ½ abad, orang keturunan Portugis ini banyak yang bercampur dengan suku bangsa lain dan penduduk Pribumi seperti orang Belanda, orang Tianghoa, Ambon, Manado, Jawa dan Sunda dsb. Keturunan mereka ini disebut orang “Mestizo” mereka hidup dalam sistem Sosial dan sistem Budaya seperti Nenek Moyang mereka di Portugis. Orang-orang Mestizo ini kemudian tidak hanya mendiami kampung Tugu, diantara mereka ada juga yang bertempat tinggal di Penjaringan, Roa Malaka, Kampung Bandan. Pejambon dan lain-lain. Tetapi pada setiap hari Minggu mereka ini anggota Misa Jemaat Gereja Tugu hingga sekarang.
Dahulu Kampung Tugu ini sangat terpencil yang jauh dari pusat keramaian, timbullah keinginan dari mereka untuk membuat peralatan Musik ini, karena di daerah Tugu alamnya banyak tumbuh pohon kayu yang mereka butuhkan untuk membuat peralatan tersebut, peralatan ini bentuknya seperti gitar kecil yang ketika dimainkan berbunyi Crong, Crong … Crong. Karena bunyinya inilah kemudian alat ini disebut “Keroncong” dan dari sinilah lahir “Musik Keroncong”.
Keroncong sebagai salah satu jenis kesenian Musik Tradisional yang tumbuh dan berkembang di daerah Tugu sendiri pada tahun 1661 seperti yang dikenal sebagai “Keroncong Asli”. Kerena musik ini diperkenalkan oleh orang-orang keturunan Portugis, meskipun dengan sendirinya jenis irama musiknya banyak dipengaruhi oleh unsur kesenian bangsa Portugis, bahkan pada waktu itu Orang-orang Belanda pernah berusaha untuk memperbaharui Keroncong Tugu dan mempengaruhi supaya mengikuti kebudayaan Belanda. Namun orang Tugu tetap mempertahankan kesenian musik Keroncong yang dianggap warisan kesenian nenek motangnya dari orang-orang Portugis oleh mereka musik tersebut, tetap dipertahankan dan dilestarikan sebagai pengikat identitas mereka. Dalam perkembangan kemudian kesenian musik Keroncong boleh dikatakan sebagai salah satu unsur pengikat komunitas masyarakat Tugu keturunan Portugis.
Lagu Keroncong yang pertama di Indonesia ialah Keroncong Moresko. Di dalam bukunya yang berjudul “Portugese Influense In Indonesia (1979) Antonio Pinto Do Franka, memberikan kata-kata syaor tiga lagu Keroncong dalam logat Melayu Portugis yang masih dipakai di kampung Tugu, sebelah Timur Jakarta, ia mencatat juga enestasi musiknya. Lagu-lagu yang disebut adalah “Moresko” Frounga dan “Kafrinyo”. Manusia menyebutkan juga lagu “Nina Bobo” dan keempat lagu itu merupakan Reportoire  Asli Keroncong. Melihat kata-kata Syair lagu tersebut. Jelas asalnya dari Portugis, dan nama lagu bisa diterjemahkan sebagai berikut : “Moresko” adalah Moresco, Frounga berarti lagu untuk satu suara atau (solo), Kafrinya berasal dari kata Cafrinha yang artinya lagu tarian yang menggambarkan seorang Mestizo dari Gowa atau Negro Arfika (Eafro) yang sedang menari berlompat-lompat. Nina Bobo berasal dari kata Portugis Menina, artinya Gadis Kecil, sedangkan Bobo berarti tidur (logat Cina, Portugis, Melayu dan Malaka). Irama keempat lagu ini memang gembira, cepat, dimaksudkan untuk tarian rakyat” (1).
Kemudian Amir Pasaribu, dalam bukunya : Musik dan Selingkar Wilayahnya”.
Moresko berasal dari sebuah tarian Portugis yang bernama “Moreska” dan diassosiasikan di Indonesia sebagai Keroncong Moritsku serta umumnya dianggap sebagai contoh Standar dari pada Keroncong yang sesungguhnya. Jacobus Quiko (Almarhum), salah seorang keturunan Portugis di Tugu menyebutkan Maritsko atau Moresko bersal dari bahasa “Moor” (Moro).
Kata Keroncong berasal dari nama mandolin kecil yang dikenal di Kampung Tugu, dan lagu Moresko merupakan asal dari semua lagu Keroncong. Menurut pendapat Manusama, Moresko berasal dari kata, Moro (Spanyol), Mouro (Portugis) dan Moor (Inggris), istilah ini diassosiasikan dengan Golongan Arab Islam dalam abad VII – XV di Spanyol dan Portugal. Yang mempengaruhi jalanya sejarah dan perkambangan Kebudayaan di sudur Benua Eropa ini, malahan pengaruhnya terasa sampai ke Asia dan Nusantara.
Demikianlah musik Keroncong Tugu terus dikembangkan, pada mulanya dimainkan oleh 3-4 orang dengan gitar kecil sambil menyanyikan lagu-lagu yang Melankolis (senandung sedih), jenis gitarnya yang dipakai mula-mula ada 3 macam yaitu : Gitar Frounga yang berukuran besar dengan dawai 4, gitar Monica yang berukuran sedang dengan dawai 3-4, dan gitar Jitera yang berukuran kecil dengan dawai 5.
Dalam perkembangan selanjutnya pemakaian alat musik Keroncong ini ditambah dengan suling, biola, gendang rebana, mandolin, Collo-kempul dan triangle (besi segi tiga) dengan sendirinya pemainnyapun bertambah, begitu juga lagu-lagunya, diperluasi iramanya, ditambah dengan irama Stambul dan irama Melayu.
Pada awal abad XX muncul perkumpulan musik Keroncong yang diberi nama “Lief De Java” (Oud Batavia) yang disponsori oleh orang-orang Belanda dengan pemainnya campiran, mereka memodernnisir musik Keroncong Tugu dengan irama musik Jazz. Peralatan musiknya juga ditambah dengan gitar melodi, okulele (Gitar Cuk) dan Contraboos. Para pemain yang terkenal pada wkatu itu antara lain : Pak Dachram, Leo Spel dan Sidik, sedangkan penyanyianya ialah Annie Landaow.
Dari Orkes Keroncong Oud Batavia inilah yang kemudian berkembang menjadi musik Keroncong asli Jakarta seperti : Orkes  Keroncong Kemayoran yang dipimpin oleh M. Sagi dan Sardi (Ayah Idris Sardi) karena pemainnya kebanyakan berasal dari Betawi, banyak lagu-lagu dan Betawi yang dimainkan.
Dari Kemayoran, Orkes Keroncong mulai tersebar keseluruh Indonesia terutama di pulau Jawa yang kemudian bercampur dengan Langgam Jawa, yang sebut juga irama Keroncong Langgam, yang mulai terkenal sejak masa revolusi penjajahan tahun 1945 sampai tahun 1950-an, irama musik Keroncong ini beberapa tahun terakhir ini mulai menampakkan ciri-ciri khas identitas ke Indonesiannya. 
3.      Peralatan
3.1.            Bahan dan Bentuk
Peralatan utama yang dipakai dalam musik Keroncong ialah Keroncong itu sendiri, yaitu suatu peralatan musik petik semacam gitar kecil yang mempunyai dawai lima buah. Pertama kali di Indonesia peralatan ini dibuat oleh orang-orang keturunan Portugis yang bermukin di kampung Tugu sejak tahun 1661. Bentuk aslinya tidak banyak berubah dengan yang ada sekarang dawainya terbuat dari benang kasur atau senar.
Peralatan membuat alat musik Keroncong di kampung Tugu ini sudah berlangsung turun temurun. Dalam pembuatan ini diperlukan ketelatenan dan ketekunan. Kayu yang paling baik mutunya untuk membuat Keroncong adalah kayu kembang kenanga yang berwarna putih ke hijau-hijauan.
Pada masa-masa awal musik Keroncong, kayu kembang kenanga cukup banyak ditemukan di kampung Tugu. Namun lama kelamaan jenis kayu ini sukar diperoleh. Pada tahun-tahun berikutnya mereka mulai membuat alat musik Keroncong dari bahan pohon kayu waru yang mutunya juga cukup baik.

3.2.            Proses Pembuatan
Dalam pembuatan sebuah Keroncong terlebih dahulu tentu saja dipilih kayu yang baik mutunya yaitu kayu yang berwarna putih kekuning-kuningan, karena kayu ini umumnya sudah berumur tua. Kayu ini biasanya ditebang pada sore hari, maksudnya agar kayu ini tidak mudah dimakan rayap. Biasanya kayu ini dibeli satu pohon sekaligus dan ditebang sendiri oleh pembelinya. Kayu ini dipotong-potong untuk ukuran satu Keroncong berbentuk kubus panjang.
Untuk mendapatkan hasil sebuah Keroncong yang baik, orang-orang Tugu membuatnya di dalam tanah, pada mulanya tanah ini digali dan dibuat seperti model sebuah Keroncong. Lalu katu tadi juga dibuat model sebuag Keroncong yang sama besarnya dengan lobang tanah tadi, kayu ini dimasukkan ke dalam tanah, biasanya ukuran yang dipakai untuk satu Keroncong ialah tebal badan 9 cm setelah potongan kayu ini dimasukan kedalam tanah lalu dibuat bulatan yang letaknya lebih sedikit diatas pinggang dan bulatan yang letaknya lebih sedikit diatas pinggang dan bulatan ini mulai dilaksanakan pembobokan, secara perlahan-lahan pembobokan ini hanya dilakukan melalui satu lobang saja yaitu bulatan tadi, itulah sebabnya maka pembobokan ini dilakukan didalam tanah, hal ini dimaksudkan agar bentuknya atau bahan ini tidak mudah berubah posisinya dan pelaksanaan pekerjaan ini dapat berjalan dengan mestinya.
Jika kebiasaan orang Tugu membuat Keroncong ini dengan cara membobok yaitu antara badan dan tutup

Tidak ada komentar:

Posting Komentar